Rabu, 18 September 2019

Kebun Teh
Pic by Farida Asadi
Saya merasa beruntung karena menjadi warga negara Indonesia yang memiliki keindahan alam yang luas dan beragam seperti memiliki banyak laut, sungai, gunung, dan yang lainnya.

Sejak saya dilahirkan di dusun Tabak Wetan, desa Kertomulyo, kecamatan Brangsong, kabupaten Kendal, provinsi Jawa Tengah sekitar 23 tahun yang lalu. Maka saya merasa bahagia karena selama 23 tahun bisa tinggal di desa Kertomulyo.

Masa kecil saya sungguh sangat bahagia karena setelah pulang sekolah maka saya bisa bermain sepuasnya di sungai, di kebun, di sawah, bahkan sampai di hutan.

Dulu, saya sering berlatih berenang di Sungai Aji bersama teman-teman saya. Namun sayangnya, sungai-sungai yang ada di sekitar rumah saya sudah tidak seperti dulu lagi.

Dahulu, air sungai yang ada di kampung saya itu airnya jernih sehingga digunakan untuk mandi, mencuci baju, dan mencuci piring. Berbeda sekali dengan saat ini karena kini air sungai sudah berubah warna menjadi keruh dan banyak pula sampah plastik yang menggunung sehingga saat musim penghujan tiba menyebabkan banjir di kampung saya.

Saya merasa sedih karena saat ini sudah berbeda dengan saat saya masih kecil. Maka dari itu, agar keadaan alam dan lingkungan tidak semakin parah maka saya mencoba dengan hal-hal sederhana yang bisa bermanfaat bagi lingkungan sekitar saya sebagai upaya kita jaga alam, alam jaga kita sehingga kita bisa menerapkan budaya sadar bencana dengan cara kenali bahayanya, kurangi risikonya bisa juga kenali ancamannya, siapkan strategi sehingga kita siap untuk selamat agar alam selalu senantiasa memberikan kita manfaat yang banyak karena kita sadar untuk menjaga alam yaitu,

1. Jangan Membuang Sampah Sembarangan

Jangan membuang sampah sembarangan. Peringatan itu sudah sering saya temui saat saya masih kecil hingga saat ini. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang membuang sampah sembarangan yang tidak sesuai tempatnya. Seperti halnya banyak masyarakat yang membuang sampah di sungai sehingga saat musim penghujan tiba maka hal tersebut bisa menyebabkan banjir.

Sebenarnya, kebiasaan membuang sampah sesuai tempatnya bisa diterapkan sejak dini melalui keluarga. Seperti ibu saya yang selalu mengingatkan saya untuk selalu membuang sampah sesuai tempatnya dan tentunya buanglah sampah sesuai dengan jenis sampahnya. Misalnya membuang sampah organik pada tempatnya dan membuang sampah anorganik pada tempatnya.

Di kampung saya, para warga memanfaatkan sampah organik untuk pupuk tanaman. Sedangkan untuk sampah plastik biasanya dikumpulkan untuk dijual kepada tukang sampah.

Sedangkan sampah plastik yang tidak bisa dijual maka dikumpulkan di tempat sampah warga dengan membayar Rp.10.000./bulan sebagai biaya pembuangan sampah karena sampah plastik yang tidak bisa dijual tersebut akan dikumpulkan di tempat pembuangan sampah yang ada di Darupono, Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah.

2. Mendaur Ulang Kembali Sampah

Saya suka mendaur ulang sampah sejak saya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama sampai saat ini, saya pernah membuat kerajinan dari barang bekas yaitu tempat tisu dari koran bekas. Selain itu, saya juga pernah membuat dompet koin dari kardus bekas susu. Dan saya juga pernah membuat bross dari kain perca yang sudah tidak terpakai.

Saat ini adapula cara mendaur ulang sampah yang disebut dengan ecobricks. Lalu apa itu ecobricks? "Eco" artinya lingkungan dan "Bricks" artinya bata. Maka bisa disimpulkan kalau ecobricks adalah sampah yang didaur ulang menjadi mirip sebuah bata untuk menjaga lingkungan.

Untuk membuat ecobricks maka siapkan terlebih dahulu alat dan bahannya seperti botol plastik bekas, sampah kantong plastik, sampah plastik bungkus kopi dan sampah plastik yang lainnya serta satu tongkat dari bambu untuk memadatkan plastik yang dimasukkan ke dalam botol plastik.

Awal proses pembuatan ecobricks yaitu siapkan dulu sampah botol plastik lalu isi dengan kantong plastik sebanyak 3-5 kantong plastik dengan warna yang sama. Setelah itu padatkan dengan tongkat dari bambu.

Selanjutnya adalah potong kecil-kecil sampah plastik bungkus kopi atau yang lainnya lalu masukkan ke dalam botol plastik. Setelah itu, padatkan dan tekan sampai botol terisi minimal 200 gram sampah plastik dan ecobricks pun sudah jadi. 

Untuk membuat ecobricks menjadi meja dan kursi maka bisa membuat ecobricks dengan jumlah yang banyak lalu disatukan dengan lem kaca. Ecobricks ini merupakan solusi untuk mengurangi sampah plastik yang ada di muka bumi ini karena membuat ecobricks ini mudah, tanpa biaya, tanpa mesin dan bisa menjadikan sampah plastik menjadi barang yang berguna.

Mendaur ulang kembali sampah merupakan upaya untuk mengurangi sampah yang ada dan tentunya bisa juga menghasilkan uang sehingga bisa menjadi salah satu peluang usaha yang membuat kita mendapatkan untung dan membuat kita lebih mencintai alam dan lingkungan.

3. Mengurangi Penggunaan Plastik

Sejak saya masih sekolah dasar, ibu saya selalu mengingatkan saya untuk sarapan dan membawa bekal makanan dan minuman sebagai upaya untuk menghemat uang saku.

Kebiasaan tersebut masih saya lakukan sejak saya masih sekolah sampai saya bekerja. Dan untuk tempat bekal makanan dan minuman, saya menggunakan wadah plastik berupa botol minum dan kotak makan yang bisa dipakai berulang kali setelah dicuci bersih.

Membawa bekal botol minum dan kotak makan merupakan salah satu cara paling sederhana untuk berhemat sekaligus untuk menjaga lingkungan. Mengapa demikian? Karena dengan membawa bekal makanan dan minuman dari rumah maka kita bisa berhemat karena tidak membeli makanan di kantin atau rumah makan.

Bayangkan saja jika setiap hari kita membeli makanan di kantin atau rumah makan dengan bungkusnya plastik sekali pakai. Jika hal tersebut terjadi maka kita akan lebih banyak mengeluarkan uang dan tidak mencintai lingkungan karena setiap hari akan ada sampah plastik yang kita buang.

Sedangkan ibu-ibu yang hobi berbelanja maka kurangilah kantong plastik yang kalian pakai. Cara sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan cara mengurangi penggunaan kantong plastik saat berbelanja. Bisa juga menggunakan tas dari kain saat berbelanja sehingga penggunaan kantong plastik bisa dikurangi.

4. Menggunakan Produk yang Ramah Lingkungan

Selain mengurangi penggunaan plastik dalam kehidupan sehari-hari. Kita juga menggunakan produk yang ramah lingkungan untuk kegiatan sehari-hari. Lalu apa sajakah itu? Hal sederhana yang sering kita jumpai adalah penggunaan daun pisang sebagai bungkus makanan. 

Selain alami, bungkus makanan dengan menggunakan daun pisang juga rasanya lebih enak. Daun pisang yang sudah dijadikan bungkus makanan tersebut nantinya pun juga bisa terurai kembali dan bisa juga dijadikan pupuk organik bagi tanaman.

Adapula peggunaan kendi dari tanah liat yang bisa digunakan untuk tempat menyimpan air minum. Hal ini sering dilakukan oleh ibu saya yang memang sering minum dari air kendi karena air minum dari kendi tanah terasa segar. Kendi dari tanah liat ini juga lebih ramah lingkungan sehingga bisa menjadi salah satu upaya untuk menjaga alam dan lingkungan.

Baru-baru ini saya menggunakan tempat menyimpan uang koin berbentuk kartun Doraemon yang terbuat dari tanah liat. Hal ini merupakan cara sederhana saya untuk tetap mencintai lingkungan dengan tidak menggunakan tempat menyimpan uang koin dari plastik.

Hal sederhana lainnya adalah menggunakan besek bambu saat membeli khas oleh-oleh dari suatu daerah seperti Lunpia Cik Me Me yang menggunakan wadah besek bambu sebagai wadah untuk Lunpia saat dijadikan oleh-oleh agar lebih sehat dan lebih ramah lingkungan.

Untuk para ibu-ibu bisa juga menggunakan popok bayi dari kain yang bisa digunakan berulang kali setelah dicuci bersih. Selain untuk menghemat biaya belanja, bisa juga turut serta mengurangi sampah popok bayi sekali pakai yang berdampak buruk bagi lingkungan.

5. Tidak Menebang Pohon Sembarangan

Saya benci dengan mereka yang menebang pohon secara sembarangan. Hal ini bisa berdampak buruk bagi lingkungan sekitar seperti misalnya bencana longsor. Maka dari itu, ayo nasehati diri sendiri agar tidak melakukan penebangan pohon sembarangan karena bisa berakibat buruk bagi alam dan para warga sekitar.

6. Budayakan Cinta dan Suka Menanam Pohon

Sebagai anak dari seorang petani maka saya sudah akrab dengan dunia pertanian selama 23 tahun ini. Biasanya ibu saya menanam beberapa sayuran yang nantinya akan dijual ke pasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Selain menanam sayuran, ibu saya juga menanam beberapa pohon di sekitar rumah seperti pohon jambu, pohon jati, pohon sengon, pohon waru, pohon bunga kenanga, pohon randu, pohon mangga, pohon melinjo hingga pohon kelapa.

Adapula beberapa bunga yang ditanam di depan rumah agar supaya rumah terasa sejuk dan enak dipandang mata. Karena yang saya alami adalah jika saya sering melihat tanaman hijau dan bunga yang bewarna-warni maka saya menjadi lebih bahagia.

Kebiasaan menanam pohon ini ternyata membawa dampak yang positif yaitu selain bisa menghasilkan bunga dan buah yang bisa dijual, bisa juga menghasilkan oksigen yang bisa kita hirup setiap hari. Maka sebagai generasi muda kita bisa menanamkan budaya cinta menanam pohon karena menanam pohon itu banyak sekali manfaatnya dari masa kini sampai masa nanti.

7. Lebih Memilih Alat Transportasi yang Ramah Lingkungan

Sejak masih sekolah dasar sampai sekolah menengah kejuruan, saya selalu menggunakan sepeda sebagai alat transportasi untuk berangkat sekolah.

Bersepeda ternyata membuat saya lebih sehat dan tentunya dengan bersepeda maka saya tidak menghasilkan polusi udara. Dengan bersepeda pula saya lebih bisa mencintai alam dan lingkungan sekitar saya.

8. Memilih Transportasi Umum

Sampai saat ini, saya lebih memilih untuk memakai transportasi umum saat bepergian demi menghemat pengeluaran. Biasanya saya memilih naik bus jika akan ke Semarang karena biaya naik bus lebih murah yaitu hanya Rp.3500. saja. Dengan memilih transportasi umum berupa bus tersebut maka saya sudah berupaya untuk mengurangi kemacetan dan mengurangi polusi udara.

9. Menghemat Penggunaan Kertas

Sebagai seseorang yang setiap harinya suka dengan dunia menulis dan membaca maka saya pun erat sekali dengan kertas. Menghemat penggunaan kertas ini sudah sering saya lakukan saat saya masih menjadi buruh pabrik di kota Semarang. 

Setiap harinya kala itu, saya menulis dan membuat laporan di kertas yang harus bolak-balik ada tulisan laporannya. Dengan hal ini maka saya berupaya dalam menghemat penggunaan kertas.

Jika dulu saat saya masih bersekolah saya sering menggunakan buku catatan harian untuk menulis maka berbeda dengan sekarang ini karena saat ini saya lebih suka menulis langsung di laptop karena dalam upaya untuk menghemat penggunaan kertas.

Saya yang suka membaca buku dan novel pun saat ini lebih suka membaca buku elektronik (e-book) melalui aplikasi perpustaakaan digital pada smartphone sebagai upaya untuk menghemat uang belanja buku dan tentunya hal ini juga merupakan upaya cinta lingkungan karena menghemat penggunaan kertas.

Kenapa kita harus menghemat penggunaan kertas? Karena kertas terbuat dari kayu maka jika kita menghemat penggunaan kertas maka kita juga menghemat penggunaan kayu.

10. Saling Mengingatkan untuk Menjaga dan Mencintai Alam

Adakalanya manusia lupa untuk menjaga dan mencintai alam. Maka dari itu, jika diri sendiri sudah menjaga dan mencintai alam maka kita bisa mengingatkan orang lain untuk menjaga dan mencintai alam seperti membuang sampah pada tempatnya dan tidak menebang pohon sembarangan. Himbauan tersebut bisa kita lakukan secara lisan kepada orang-orang terdekat kita.

Beruntunglah saat ini zaman semakin maju dengan adanya teknologi yang terus berkembang pesat. Upaya saling mengingatkan dan memberikan himbauan untuk menjaga dan mencintai alam bisa kita lakukan melalui sosial media seperti Facebook, Twitter, Instagram, dan Youtube.

Kita bisa membagikan foto, tulisan atau video seputar menjaga dan mencintai alam kepada seluruh dunia sehingga kita bisa mengingatkan semua orang di dunia untuk tetap menjaga dan mencintai alam ini.

Itulah beberapa hal sederhana sebagai upaya untuk menjaga dan mencintai alam. Dengan mencintai alam maka alam akan mencintai kita. Cinta alam juga merupakan upaya kita agar sadar terhadap bahaya bencana.

Apakah kalian sudah melakukan hal sederhana dalam menjaga dan mencintai alam? Lalu, bagaimana cara kalian dalam upaya menjaga dan mencintai alam?

Tulisan ini diikutsertakan dalam kreativitas Tangguh Awards 2019 kategori lomba blog #TangguhAwards2019 #KitaJagaAlam #AlamJagaKita #SiapUntukSelamat #BudayaSadarBencana #KenaliBahayanyaKurangiRisikonya

Rumah Maya Farida . 2017 Copyright. All rights reserved. Designed by Blogger Template | Free Blogger Templates