Selasa, 24 Desember 2019

Pohon dan Buah Pisang di Dusun Tabak Wetan

Pohon Pisang
Pic by Farida Asadi
Anak sehat makanannya empat sehat lima sempurna, nasi sayur lauk buah serta susu namanya. Dulu, sekitar tahun 2014 saat saya masih duduk di bangku kelas dua belas sekolah menengah kejuruan, dan keponakan saya bersekolah di pendidikan anak usia dini, lagu tersebut sering saya dengar di rumah karena keponakan saya selalu suka untuk menyanyikan lagu tersebut.

Dari nyanyian itulah saya jadi teringat betapa pentingnya buah untuk kesehatan karena masuk dalam daftar makanan 4 sehat 5 sempurna. Namun, kesadaran para warga di desa saya untuk mengkonsumsi buah masih sangat rendah terbukti dari beberapa orang yang jarang mengkonsumsi buah entah itu belum mampu membeli buah atau memang tidak suka buah.

Saya merasa senang, karena anak-anak kelompok belajar, pendidikan anak usia dini dan taman kanak-kanak  di desa saya sering kali mengadakan acara makan bersama yang mewajibkan membawa makanan 4 sehat 5 sempurna sehingga para siswanya bisa makan makanan 4 sehat 5 sempurna.

Saya agak sedikit merasa heran ketika ada anak kecil tetangga saya yang umurnya 4 tahun tapi tidak dibiasakan mengkonsumsi buah dan sayur padahal orangtuanya mampu untuk membeli buah namun tidak mau membelikan anaknya buah karena untuk menghemat pengeluaran.

Namun apa yang terjadi pemirsa? Si anak tumbuh dengan badan yang lemas dan tidak tahu beberapa jenis buah karena orangtuanya tidak pernah memperkenalkan dengan buah. Maka dari itu saya banyak belajar dari kejadian tersebut yaitu jangan terlalu pelit untuk memenuhi kebutuhan anak, karena tumbuh kembang anak memerlukan asupan buah yang lezat dan sehat.

Hidup di desa tepatnya di Dusun Tabak Wetan Desa Kertomulyo memudahkan saya untuk mendapatkan buah karena memang di desa saya masih terdapat banyak buah seperti mangga, pisang, dan jambu. Walaupun berada di ketinggian, desa saya kurang cocok ditanami buah-buahan. Para petani di desa saya lebih memilih menanam padi dan sayuran karena memang hasilnya menguntungkan.

Walaupun begitu saya tetap suka dengan kondisi desa saya karena rukun dan suka berbagi buah kepada tetangga saat musim panen buah tiba entah itu panen buah mangga, buah jambu dan buah pisang. Para tetangga saya juga masih banyak yang menanam pisang di kebunnya terbukti dari beberapa pohon pisang yang tumbuh subur di kebun para tetangga saya.

Saat lebaran akan tiba biasanya para warga memanfaatkan daun pisang untuk membuat lontong. Selain itu, batang pohon pisang juga dimanfaatkan untuk dijual menjadi keranjang tembakau dan banyak juga para warga yang memanfaatkan bogol pisang (batang pohon pisang paling bawah) untuk dijadikan kerupuk.

Buah pisang jugalah yang menjadi buah favorit para warga di desa saya karena rasanya enak dan tentu saja gratis karena bisa memetik langsung di kebun milik sendiri jika kita menanam pohon pisang.

Buah pisang cocok dikonsumsi segala usia. Mulai dari anak-anak sampai orang tua boleh mengkonsumsi buah pisang. Setelah bayi berusia 6 bulan pun buah pisang digunakan sebagai makanan pendamping ASI dengan cara diuleg dan diberi sedikit gula merah. Saat saya membaca novel pun ada beberapa bab yang menjelaskan tentang manfaat buah pisang untuk ibu hamil. Buah pisang memang buah istimewa bagi semua kalangan usia.

Itulah sedikit cerita saya seputar pohon dan buah pisang. Lalu, apa nih buah favorit kalian? Kalau saya memang suka dengan buah pisang karena di dusun Tabak Wetan masih banyak para warganya yang menanam pohon pisang dan seringkali saya pun diberi beberapa buah pisang yang sudah matang oleh tetangga saya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar